Ringkasan Berita:
- Jajak pendapat Reuters menunjukkan hanya 17 persen warga AS mendukung, dengan penolakan kuat lintas partai, terutama dari Demokrat dan pemilih independen.
- Publik AS takut pencaplokan Greenland—wilayah otonom Denmark—dapat memicu konflik militer dengan sekutu sendiri dan mengguncang hubungan transatlantik.
- Ancaman perang dagang, biaya pertahanan besar, serta minimnya manfaat langsung membuat warga AS menilai ambisi Trump lebih berisiko daripada menguntungkan.
TRIBUNNEWS.COM – Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland menuai penolakan luas dari publik domestik Amerika.
Jajak pendapat terbaru yang dikutip dari Reuters menunjukkan hanya 17 persen warga AS yang menyetujui upaya Trump untuk mengambil alih wilayah otonom Denmark tersebut, sementara mayoritas besar menolak termasuk dari dua partai politik utama.
Penolakan paling kuat datang dari pemilih Partai Demokrat. Sebanyak 94 persen responden Demokrat menyatakan menentang rencana Trump, dan sekitar 80 persen di antaranya mengaku sangat menentang.
Di kubu Republik, dukungan terbelah tajam. Sekitar 50 persen pemilih Republik dan independen yang condong ke Republik mendukung langkah Trump, sementara separuh lainnya menentangnya.
Kelompok independen atau non-partisan juga menunjukkan sikap negatif. Delapan dari sepuluh responden independen menyatakan tidak setuju dengan rencana akuisisi Greenland, mencerminkan resistensi lintas spektrum politik di Amerika Serikat.
Pencaplokan Greenland Picu Kekhawatiran
Penolakan mayoritas masyarakat Amerika Serikat terhadap rencana Presiden Donald Trump untuk mencaplok Greenland didorong oleh kekhawatiran serius akan risiko konflik militer, rusaknya aliansi internasional, serta penolakan publik terhadap ekspansi wilayah melalui kekuatan.
Sikap ini tercermin dalam jajak pendapat nasional yang menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil warga AS mendukung gagasan tersebut.
Sementara sebagian besar lainnya menilai langkah itu berbahaya dan tidak sejalan dengan kepentingan nasional Amerika.
Baca juga: Trump Makin Agresif, Ancam Jatuhkan Tarif Tambahan bagi Sekutu yang Tolak AS Caplok Greenland
Bagi banyak warga AS, ancaman penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark yang juga sekutu NATO dianggap dapat memicu krisis keamanan global.
Greenland berada di bawah payung pertahanan NATO, sehingga setiap tindakan agresif terhadap wilayah tersebut berpotensi menyeret Amerika Serikat ke konflik langsung dengan sekutunya sendiri.
Kekhawatiran ini menjadi alasan utama penolakan publik, terutama di tengah kelelahan masyarakat AS terhadap konflik militer luar negeri setelah perang panjang di Irak dan Afghanistan.
Selain risiko perang, masyarakat AS juga menilai rencana pencaplokan Greenland berpotensi merusak pondasi aliansi transatlantik yang selama puluhan tahun menjadi pilar kebijakan luar negeri Washington.
Denmark telah memperingatkan bahwa penggunaan kekuatan terhadap Greenland akan mengakhiri kepercayaan dalam NATO.
Kekhawatiran serupa dirasakan publik AS, yang menilai langkah tersebut justru melemahkan posisi Amerika di mata sekutu Eropa dan menguntungkan rival geopolitik seperti Rusia dan China.
Faktor lain yang memperkuat penolakan adalah minimnya urgensi langsung bagi masyarakat AS.